Di Stasiun Haurgeulis Indramayu, Si Bung dihadang rakyat Indramayu untuk turun dan berpidato
Catatan Sejarah Sentot oleh Rg Bagus Warsono:
1947 tepatnya bulan Juli, pemuda-pemuda Indramayu yang tergabung dalam Gerilyawan Republik dibawah komandan Sentot, mendengar kabar bahwa Presiden Republik Indonesia hendak lewat menuju Yogyakarta. Kabar ini di dapat dari seorang anggora pergerakan yang baru tiba dari Jakarta pada hari sebelumnya.
Keadaan ibukota kawedanan Haurgeulis di wilayah Indramayu barat itu telah ditinggalkan oleh Pasukan Belanda, sehingga pasar di sekitar stasiun itu pun kembali ramai.
Rasa ingin tahu sosok Presiden Indonesia sang Proklamator itu menggebu pada pemuda-pemuda pergerakan di Haurgeulis. Kabar itu pun simpang siur. Rakyat hanya tahu bahwa presiden akan datang di Haurgeulis untuk berpidato di alun-alun kawedanan.
Semakin siang semakin penuhlah rakyat berbondong-bondong memenuhi stasiun. Keadaan ini mengkhawatirkan para pemuda dan pimpinan gerilawan, sebab tak ada rencana presiden untuk datang di Hargeulis untuk berpidato kecuali kereta api itu dihentikan paksa!
Lalu bagaimana jika kereta itu terus saja berjalan kafrena pengawalan tentara pasukan pengawal presiden? Kata seorang pemuda. Kita hentikan melalui kepala stasiun. Tetapi kepala stasiun telah ditelegram untuk tidak menghalangi laju kereta presiden. Tak ada cara lain kecuali menghentikan paksa.
Para pemuda itu membagi berberapa kelompok. Diantara kelompok itu berjalan menelusuri rekl kereta ke arah barat, kemudian disusul kelompok ke dua dan ketiga. Sedang di Stasiun dtelah berkumpul ribuan rakyat menanti Si Bung.
Ketika Kereta Api yang ditumpangi Presiden terlihat dari jauh, para pemuda itu berdiri di rel kereta api sambil membawa bendera dengan maksud menghentikan kereta. Kereta api tetap berjalan sambilm memberikan sorot lampu bahaya agar orang yang berdiri menghadang kereta itu menyingkir. Semakin dekat kereta itu tidak berhenti dan pemuda-pemuda kelompok pertama yang menghadang kereta di ujung barat terpaksa menyingkir karena takut tergilas. Begitu juga pada kelompok pemuda yang berdiri di rel kereta pada lapis kedua juga menyingkir.
Semakin dekat kereta api itu ke stasiun tampaklah oleh masinis ribuan orang menghadang di stasiun sehingga masinis terpaksa memperlambat laju kereta. Pada saat itu kepala Stasiun membelokkan rel utama ke rel kereta tunggu yang berada di belakang stasiun. Kereta api yang ditumpangi Si Bung itu perlahan berbelok ke kiri menuju belakang stasiun. Keadaan ini dimanfaatkan oleh rakyat ungtuk menghadang kereta di Stasiun. Pada saat itu ratusan rakyat rakyat yang berloncatan naik kereta dan kereta api itu terpaksa berhenti. Kepala stasiun tak kuasa menahan keinginan masyarakat.
Saat Kereta berhenti berloncatan gerilyawan menuju gerbong. Percakapan keras pun terjadi. Pengawal Presiden melihat keadaan ternyata tak ada tanda-tanda membahayakan presiden. Tak ada pilihan kecuali menuruti kemapuan para gerilyawan untuk menurunkan Presiden dari kereta api dan berpidato.
Akhirnya dicapai kesepakatan, Si Bung bersedia menemui rakyatnya. Dari gerbong belakang, Si Bung menuju alun-alun Haurgelis , rakyat pun kemudian menuju alun-alun dan menuinggalkan stasiun.
Di alun-alun itu Si Bung naik diatas teras tugu Kemerdekaan yang mirip Tugu Proklamasi dan berpidato. Rakyat mendengarkan dan terpukau melihat presidennya berpidato berapi-api.
Itulah kisah pidato Spontanitas Si Bung . (diceritakan oleh Rg Bagus Warsono)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar