Selasa, 23 Agustus 2022

Abang Becak Jakarta itu dari Indramayu.

 Abang Becak Jakarta itu dari Indramayu.

Ribuan pengemudi becak sejak tahun 2000 di Indramayu kehilangan pekerjaan dimulai dari hadirnya angkot (di kota besar hadirnya bus kota)

yang kemudian abang becak minggir ke kota kecamatan. Kemudian banjir sepeda motor, becak semakin terpepet hingga hanya melayani pelanggan bakul pasar atau angkutan material bangunan dan barang. Kini becak menghilang dikilo besi tua. Ojek online dan mobil online hadir dimana-mana. Becak jadi kenangan. Dijumpai juga becak dimodif bermesin, namun tak sebanding dengan pengeluaran bensin. Kini becak hampir tidak ada di Indramayu. Beruntunglah masih ada sisa satu itu juga bakul bekas jualan semangka di pasar pekan yang tiap sore berpindah tempat/desa. Aku menemukannya di desa bangkir. Pengemudi becaknya sudah tak kuat lagi membecak, anak anaknya ogah meneruskan usaha jasa kayuh bapaknya ini. Kini becak itu menjadi hiasan di Sanggar Lumbung Puisi sebagai bukti bahwa orang Indramayu dulu di tahun tahun 70-an merajai Jakarta sebagai Abang Becak. (Rg Bagus Warsono, 22-08-22)



Selasa, 16 Agustus 2022

Di Stasiun Haurgeulis Indramayu, Si Bung dihadang rakyat Indramayu untuk turun dan berpidato Catatan Sejarah Sentot oleh Rg Bagus Warsono:

 Di Stasiun Haurgeulis Indramayu, Si Bung dihadang rakyat Indramayu untuk turun dan berpidato

Catatan Sejarah Sentot oleh Rg Bagus Warsono:

1947 tepatnya bulan Juli, pemuda-pemuda Indramayu yang tergabung dalam Gerilyawan Republik dibawah komandan Sentot, mendengar kabar bahwa Presiden Republik Indonesia hendak lewat menuju Yogyakarta. Kabar ini di dapat dari seorang anggora pergerakan yang baru tiba dari Jakarta pada hari sebelumnya.

Keadaan ibukota kawedanan Haurgeulis di wilayah Indramayu barat itu telah ditinggalkan oleh Pasukan Belanda, sehingga pasar di sekitar stasiun itu pun kembali ramai.

Rasa ingin tahu sosok Presiden Indonesia sang Proklamator itu menggebu pada pemuda-pemuda pergerakan di Haurgeulis. Kabar itu pun simpang siur. Rakyat hanya tahu bahwa presiden akan datang di Haurgeulis untuk berpidato di alun-alun kawedanan.

Semakin siang semakin penuhlah rakyat berbondong-bondong memenuhi stasiun. Keadaan ini mengkhawatirkan para pemuda dan pimpinan gerilawan, sebab tak ada rencana presiden untuk datang di Hargeulis untuk berpidato kecuali kereta api itu dihentikan paksa!

Lalu bagaimana jika kereta itu terus saja berjalan kafrena pengawalan tentara pasukan pengawal presiden? Kata seorang pemuda. Kita hentikan melalui kepala stasiun. Tetapi kepala stasiun telah ditelegram untuk tidak menghalangi laju kereta presiden. Tak ada cara lain kecuali menghentikan paksa.

Para pemuda itu membagi berberapa kelompok. Diantara kelompok itu berjalan menelusuri rekl kereta ke arah barat, kemudian disusul kelompok ke dua dan ketiga. Sedang di Stasiun dtelah berkumpul ribuan rakyat menanti Si Bung.

Ketika Kereta Api yang ditumpangi Presiden terlihat dari jauh, para pemuda itu berdiri di rel kereta api sambil membawa bendera dengan maksud menghentikan kereta. Kereta api tetap berjalan sambilm memberikan sorot lampu bahaya agar orang yang berdiri menghadang kereta itu menyingkir. Semakin dekat kereta itu tidak berhenti dan pemuda-pemuda kelompok pertama yang menghadang kereta di ujung barat terpaksa menyingkir karena takut tergilas. Begitu juga pada kelompok pemuda yang berdiri di rel kereta pada lapis kedua juga menyingkir.

Semakin dekat kereta api itu ke stasiun tampaklah oleh masinis ribuan orang menghadang di stasiun sehingga masinis terpaksa memperlambat laju kereta. Pada saat itu kepala Stasiun membelokkan rel utama ke rel kereta tunggu yang berada di belakang stasiun. Kereta api yang ditumpangi Si Bung itu perlahan berbelok ke kiri menuju belakang stasiun. Keadaan ini dimanfaatkan oleh rakyat ungtuk menghadang kereta di Stasiun. Pada saat itu ratusan rakyat rakyat yang berloncatan naik kereta dan kereta api itu terpaksa berhenti. Kepala stasiun tak kuasa menahan keinginan masyarakat.

Saat Kereta berhenti berloncatan gerilyawan menuju gerbong. Percakapan keras pun terjadi. Pengawal Presiden melihat keadaan ternyata tak ada tanda-tanda membahayakan presiden. Tak ada pilihan kecuali menuruti kemapuan para gerilyawan untuk menurunkan Presiden dari kereta api dan berpidato.

Akhirnya dicapai kesepakatan, Si Bung bersedia menemui rakyatnya. Dari gerbong belakang, Si Bung menuju alun-alun Haurgelis , rakyat pun kemudian menuju alun-alun dan menuinggalkan stasiun.

Di alun-alun itu Si Bung naik diatas teras tugu Kemerdekaan yang mirip Tugu Proklamasi dan berpidato. Rakyat mendengarkan dan terpukau melihat presidennya berpidato berapi-api.

Itulah kisah pidato Spontanitas Si Bung . (diceritakan oleh Rg Bagus Warsono)



Senin, 15 Agustus 2022

Bahwa orang tua dan anak muda memiliki saling menghargai pendapat

 Hari ini 16 Agustus 45, Bung Karno dan Bung Hatta dibawa paksa oleh para pemuda (Chairul Saleh, Wikana, dll.) ke Rengasdengklok, Kota kecamatan di utara Kerawang. Tujuannya adalah agar Si Bung mau memproklamasikan Indonesia. Bagi para pemuda momen Jepang menyerah adalah kesempatan bagi Indonesia untuk segera memproklamirkan Republik ini. Jauh dari pemikiran anak-anak muda Si Bung berfikir lebih jauh. Bahwa pengambilan keputusan itu tidak grasa-grusu. Berkali Bung Hatta menasehati anak-anak muda itu tetapi tetap saja anak-anak muda itu melawan. Ketika habis kesabaran Si Bung, maka ditawarinya kepada mereka anak-anak muda itu utuk memproklamirkan sendiri. "Silahkan siapa mau memproklamirkan silahkan!" Tetapi anak anak muda itu diam seribu basa. Tak satu pun yg menjawab hingga akhirnya dengan perhitungan sendiri, Dwi Tunggal itu siap kembali ke Jakarta untuk mempersiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dan kini telah 77 tahun usia Indonesia. Kenangan penculikan Si Bung ke Rengasdengklok menjadi kenangan sejarah yang tak dilupakan. Bahwa orang tua dan anak muda memiliki saling menghargai pendapat. Itu maknanya. (Rg Bagus Warsono)



Soedirman itu Lambang Perjuangan

  Jend. Soedirman tidak pernah menarik pelatuk pistol/bedil bertempur dengan musuh, tetapi ia ahli strategi, penasehat para komandan, kharismatik, dan lambang perjuangan, itulah sebabnya Si Bung kemudian mengakui Soedirman, (setelah Soepriadi tak ada rimba nya), dan ketika bertemu Si Bung  memeluknya. (rg bagus warsono)



Negeri Astinasia

Rg Bagus warsono


Negeri Astinasia


Inilah negeri Astinasia 

Negeri bangsa Kurawa

Dengan undang-undang dasar Astinasia

Yang boleh tak diturut

Dan dasar negara Astinasia yang boleh sebagai bemper kepalsuan

Kemunafikan, atau kedok dagangan

Di negeri Astinasia memerintah bukan presiden tapi boneka dan mentri-mentri seperti algojo yang siap menerkam siapa saja

Dan ada dewan perwakilan dari perhimpunan Maling, penipu, dan penadah

Tak ada hakim yang ada laporan

Tak ada jaksa yang ada fitnah

Lalu polisi di negeri astina sia

Berlambang mata uang astinasia 

Negeri astinasia merdeka

Atau tak merdeka

Karena tak di merdekakan

Sehingga tak ada hari kelahiran

Sebab hari ulang tahun setiap hari

Sejak pagi hingga petang.




Orang Indonesia kok suruh menghormat bendera Belanda,

 *Orang Indonesia kok suruh menghormat bendera Belanda, demikian dalam hati Sujogo ketika mulai sekolah di HIS Cirebon. Tetapi Sujogo nurut saja demi untuk mendapatkan ijazah dan harapan orang tua. *

(cuplikan buku Macan Sujogo , cerita rakyat Indramayu seri Perjuangan Sentot di Indramayu karya Rg Bagus Warsono)



Merdeka bukan hadiah Jepang

 Merdeka bukan hadiah Jepang. Pada tanggal 15 Agustus 45 ini Si Bung didesak untuk segera  menproklamasikan Indonesia. Tapi Si Bung bukan orang yg ambisius ingin menjadi Presiden. Si Bung meminta waktu untuk meminta pendapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, jadi ada legetimasi dari badan persiapan kemerdekaan itu. Tetapi para pemuda sudah tidak sabar.

(Rg Bagus Warsono)



Peta berbalik memberontak pada Jepang

 Walaupun Jepang menyerah pada Sekutu hari ini 15, Agustus 45, dan menarik pasukannya dari Asia Timur Raya, sebetulnya juga tak kuat menghadapi tentara Republik Indonesia. Banyak terjadi Tentara bentukan Jepang Peta berbalik memberontak pada Jepang dan itu tidak hanya di Blitar saja tetapi juga di Purwokerto, Semarang, Bandung dan kota-kota yg pada saat itu kantung kantung Peta. (Rg Bagus Warsono)



Belum dapat kabar adanya Proklamasi.

 Pada 17 Agustus 1945 di daerah di kota-kota kecil tidak ada upacara hari hari kemerdekaan/Proklamasi karena belum dapat kabar adanya Proklamasi.

(Rg Bagus Warsono)



Mau Perang Dengan Siapa?

 Tahu tidak pada mulai 15 Agustus 1945, tentara gerilwan kita semakin bertambah banyak. Banyak pemuda pemudi dan juga orang dewasa yg bergabung dengan Tentara gerilyan. Ini aneh karena mau perang dengan siapa??? Wong Jepang pun sudah ditarik mundur. 

(Rg Bagus Warsono)



Rabu, 10 Agustus 2022

Rg Bagus Warsono. Karangan Bunga Untuk Polisi

 Rg Bagus Warsono.

Karangan Bunga Untuk Polisi


Warna-warni bunga dihalamanmu

dengan kelopak yang segar

aku tulip, kemboja, mawar, melati, kenanga

agar aromaku masuk dinding-dinding markas besarmu.

Karangan bunga warna-warni

melingkari pesan-pesan pada pengayom kita

kerja jujur untuk bangsa ini

sebagai tanda mata rakyat yang tak tahu apa

Tirulah Hoegeng

Jadilah Hoegeng-hoegeng

Cerminkan Hoegeng.

Idolakan dia.

Karangan bunga di tepi jalan markasmu

hanya tiga hari layu , berganti

Tengoklah kami , pesan kami

hirup aroma kami agar kau wangi.

Dan sarinya menempel di bajumu polisi.

Indramayu, 9 Agustus 2022

Foto KB Antara.


Minggu, 07 Agustus 2022

Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (1) KEPADA CHAIRIL ANWAR : Wawan Hamzah Arfan

 Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (1)

Bagaimana seorang penyair menatap hidup dirinya dan pembandingan dengan Chairil Anwar dipadu situasi masa kini diketengahkan oleh Wawan Hamzah Arfan, penyair kawakan yang menetap di Cirebon ini. Judulnya ditujukan kepada Chairil Anwar. Ia nyatakan bahwa di masa ini gejolak Chairil tak perlu diungkapkan baginya hidup tak perlu ngoyo dan tetap menjalani dengan kemampuannya yang ia pasrahkan Kepada Allah. Agaknya Wawan Hamzah Arfan sengaja memberikan suri tauladan kepada yang muda bahwa hidup perlu dihayati. Dalam bait terkhirnya ketara bahwa ia menyadari tantangan dalam hidup ini. (Rg Bagus Warsono)

KEPADA CHAIRIL ANWAR 

: Wawan Hamzah Arfan 

kau bilang dirimu binatang jalang 

aku hanya tumbuhan ilalang 

hidup liar dalam kubangan

tanah tak bertuan 

aku  tak perlu berlari 

mengejar hidup hari ini 

imajiku masih punya sensasi

tak peduli jiwaku lapar 

jantungku berdebar

rasaku bergetar samar-samar 

aku tetap tegar

baca puisi tanpa mimbar

sesuka hatiku sesumbar 

sebatas usiaku yang tersisa 

kumau hidup penuh warna 

di antara ambisi

spekulasi 

manipulasi 

dan tragedi alam tanpa prediksi

Cirebon, 26 Juli 2022 

Biodata

Wawan Hamzah Arfan, lahir di Cirebon, 8 Juni 1963. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, artikel, dan esai tersebar di berbagai media, baik terbitan ibu kota maupun daerah. 

Beberapa puisinya terhimpun dalam Antologi Puisi Mega Mendung (1989), Kebangkitan Nusantara I (1994), Kebangkitan Nusantara II (1995), Kebangkitan Nusantara III (1996), Antologi Puisi HP3N " Nuansa Tata warna Batin" (2002). Puisi Menolak Korupsi (2013), Cinta Mengubah Segalanya (2013),  Antologi Puisi & Apresiasi "Mendekap Langit" (2013)., Antologi Parsel ( Maret 2021), Merenda Hati (April 2021), Antologi ASU (2021),  Antologi Tadarus Puisi (2021), Puisi Menolak Korupsi 8 (Juli 2021), Antologi Puisi Tunggal "Perjalanan Berkarat* (Juli 2021), Antologi Puisi T (2021), Antologi Tembang Puisi Bagi Jumari (2021) ,Antologi Jejak Puisi Digital.(2021), Antologi Pujangga Facebook Indonesia (2022), Kumpulan Puisi Menanti Isyarat,  Antologi Puisi 

Dunia: Suara Penyair Mencatat Ingatan,  Antologi Puisi Imlek dan Kasih Sayang: Lampion Merah Dadu (Maret 2022). Kumpulan Puisi Menanti Isyarat (2022), dan Antologi Puisi Minyak Goreng (2022).

Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (2) Joko Kahhar KUINGAT SEBUAH NAMA

 Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (2):

Bagaimana seorang penyair menoreh tintanya dalam waktu singkat adalah Joko Kahhar, penyair senior Indonesia asal Yogyakarya ini. Tentu tentang Chairil Anwar. Ia katakan bahwa puisi yang kuat akan ditemukan dalam kertas usang yang berlubang. Artinya akan ada orang lain yang membaca bahwa puisi kita itu hidup walau kadang terlantar atau terbuang. Hidup puisi itu puisilah yang membawanya. (Rg Bagus Warsono)

Joko Kahhar

KUINGAT SEBUAH NAMA

Di lipatan kertas usang sebagian robek dan berlubang/

Kubaca larik-larik kalimat bersajak/

.....

Aku sekarang api aku sekarang laut/

Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat/

Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar/

Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh/

(1948)

Lalu kuingat sebuah nama: Chairil Anwar/

Binatang jalang dari kumpulannya terbuang//

Yogyakarta, 26 Juli 2022

Joko Sulistyo Kahhar, nama panggilan, Joko Kahhar. Lahir di Banyuwangi Jawa Timur, 11 Februari 1955. Setelah lulus SMA, melanjutkan kuliah di fakultas Tehnik Perminyakan UPN Veteran, Yogyakarta 1975. Menulis puisi sejak SMA dan  aktif dalam "Blambangan Sastra Club" (BSC) yang setiap minggu mengisi acara sastra dan puisi di radio "Blambangan" milik pemda Banyuwangi. Sempat membuat para pengasuh rubrik sastra dan puisi di radio tersebut berurusan dengan polisi, karena puisi karyanya, "Bising Aku" yang dibacakan dalam acara tersebut, dianggap melecehkan, kalau sekarang, disebut penistaan terhadap agama, ulama, dan menghina pemerintah (orde baru). 

"Di Ambang Senja Kami Masih Ingin Mendayung," adalah antologi puisinya berdua Raden Mas Ridarmanto, diterbitkan Jejak Publisher (2018).

Pada era majalah sastra Horison, edisi lama (Sapardi Djoko Damono) dua cerpennya , "Yulia" dan "Sayang Cinta itu Begitu Runyam," pernah dimuat majalah sastra tersebut. Konon dengan pertimbangan oleh Sapardi Djoko Damono bahwa penulisnya dianggap berpeluang untuk "ng-edan" ("gila"). Di samping dunia sastra dan puisi, juga aktif di dunia seni rupa. Sempat ikut berperan dan menjadi salah seorang eksponen dalam  gerakan seni Kepribadian Apa, Pipa (1977-78) di Yogyakarta, dan lahirnya "Himpunan Pelukis Surabaya" Hipbaya (1990-an) di Surabaya.

Belakangan aktif di dunia penerbitan buku sebagai penulis, penerjemah dan konsultan disain cover freelance. Di samping sebagai pemerhati seni, budaya, sejarah agama dan Yahudi. Demikian sebatas yang saya ingat. Ars longa vita brevis!

Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (3) Anisah Effendi DENGAN PUISI

 Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (3)

Mari kita lihat puisi Anisah Effendi, penyair Cirebon yang aktif namun nyaris tak terlihat wajahnya.  Sebetulnya sisi yang diambil cukup indah. Ada mengungkapkan manfaat puisi dan juga tentang puisi Chairil Anwar. Baitnya yang terakhir tampak memberi kesimpulan bahwa dengan puisi memiliki semangat hidup. Sayang Anisah kurang melebar serta kosa kata yang minim sehingga puisi ini pendek. Namun demikian puisi adalah puisi apa pun yang ditulis bagi seorang penyair memiliki maksud tersendiri oleh penyairnya. (Rg Bagus Warsono) 

Anisah Effendi

DENGAN PUISI

(Mengenang Chairil Anwar)

Cinta dan doa kau lantunkan dengan puisi

Amarah dan kecewa kau tumpahkan dengan puisi

Sunyi dan sepi kau lukis dengan puisi

Luka dan duka kau bawa berlari dengan puisi

Dengan puisi pula

Kau menjaga jiwa dan menjaga Indonesia

Darimu aku temukan

Semangat hidup

Seribu tahun lagi

Cirebon, 26 Juli 2022

Anisah Effendi Guru dan penikmat sastra. Menyukai sunyi dan keheningan. Senang membaca dan menulis.

Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (4) Bambang Widiatmoko PERCAKAPAN RUANG BATIN

 Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (4) 

Bambang Widiatmoko adalah sastrawan akademika yang tak asing lagi di Indonesia sejak tahun 1980-an. Kali ini memberikan puisinya yang sangat apik yaitu sebuah percakapan ruang batin. Adalah gaya Bambang Widiatmoko dalam puisi imajenernya dengan Chairil Anwar. Tampak puisi ini memberikan nuansa gambaran Chairil di saat masa-masa perjuangan dulu. Pemuda kurus kerempeng yang meyakinkan bahwa Chairil seorang pejuang meski hanya dengan aksara. Dalam puisi itu pula Chairil berkata aku kumbang aku kembang, sebuah baris yang memiliki makna tersirat. Baris baris metafora puisi Bambang memang luar biasa. Pada ia memandang gambar-gambar baliho yang kini terpasang sepanjang jalan Cikini Raya dan pada saat itu pula bayangan Chairil menghilang seakan dia berkata bahwa "Taman punya kita berdua", yang artinya tidak saja pada diri penulisnya (Bambang Widiatmoko)m tetapi juga siapa saja yang membacanya. Jempol untuk Mas Bambang Widiatmoko . (Rg Bagus Warsono)

Bambang Widiatmoko

PERCAKAPAN RUANG BATIN

Dalam pertemuan yang tak perlu dicari tanggal dan tempatnya

Namun telah menjadi napas dalam jiwa bersama

Kita selalu bercakap dalam ruang batin

Tentang semangat yang tak pernah padam

Dan sambil menepuk dada ramping menonjol tulang

Engkau berseru “Aku ingin hidup seribu tahun lagi.”

Kita tentu tak peduli semesta tertawa

Membaca hidup yang dipenuhi metafora

Tapi aku selalu suka, karena itu semangat yang kita miliki

Dan tetap terjaga di sudut jiwa

Seperti saat bertempur tapi tak membawa senjata

“antara Krawang – Bekasi”

Namun engkau tetap memiliki dan meyakini

“Berselempang semangat yang tidak bisa mati.”

Atau kita akan menjadi bagian dari takdir

“Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.”

Kita memang sesama pejalan malam

Menyusuri sudut-sudut jalan dan berhenti di persimpangan

Mencari kata-kata yang terbang bersama kelelawar

Lalu dalam percakapan ruang batin engkau berkata

“Kau kembang, aku kumbang

“Aku kumbang, kau kembang.”

Entahlah, telah memasuki perjalanan usia seabad

Sajak-sajakmu tetap mengikat kuat

Lalu sambil terbata-bata engkau berucap

“Hidup hanya menunda kekalahan.”

Di persimpangan jalan kita berpisah

Namun dalam percakapan ruang batin terasa menjelma

Sajak-sajakmu tertulis di baliho sepanjang jalan Cikini Raya

Dan ketika aku memasuki halaman Taman Ismail Marzuki

Mulutku tercekat, kulihat bayangan tubuhmu sekelebat lewat

Ah, benarkah? “Taman punya kita berdua.”

2022

Bambang Widiatmoko, penyair berasal dari Yogyakarta. Kumpulan puisinya al. Mubeng

Beteng (2020); Kirab (2021). Sajaknya tergabung dalam puluhan antologi bersama al. 

Kartini Menurut Saya (2021); Kebaya Bordir untuk Umayah (2021); Mata Air – Air

Mata (2021); Manuskrip Bintoro (2021); Luka Manakarra (2022); Tarian Laut (2022).,

Wasiat Botinglagi (2022). Ikut menulis esai di buku al. Nyanyi Sunyi Tradisi Lisan (ATL,

2021); Esai dan Kritik Sastra NTT (KKK, 2021); Mencecap Tanda Mendedah Makna (FIB

UI, 2021); Sastra, Pariwisata, Lokalitas (HISKI Bali, 2021); Antologi Kritik Sastra dan Esai

(KKK. 2021). Kumpulan esainya Jalan Cahaya (KKK, 2022).

Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (5) Erndra Achaer AKU SEPERTI BUKAN AKU

 Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (5)

Kutemukan puisi dari banyak puisi-puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini yang menarik. Kali ini adalah Erndra Achaer perempuan penyair asal Banjarnegara.  Judulnya sangat menarik dan memiliki magnet untuk dibaca. Seseorang dalam perjalanan hidupnya memiliki cerita sendiri-sendiri. Bagaimana membagi cerita diri agar dinikmati orang lain melalui puisi.Pilihan judul  Aku Seperti Bukan Aku memberi kesan bahwa penyair ini sudah sudah pandai memberi nama judul. Bait pembuka dan kedua memberi kisah diri. Yang mengundang pembaca untuk membaca seterusnya. Sayang sekali  Erndra Achaer menepis cerita diri dengan mengalihkan alur puisinya pada bait 

//.../Lihatlah

Ada banyak cerita

Tentang bocah-bocah malang

Tercekam ancaman

Tak sedikit impian pupus

Dicekal bius nafsu/..// . Namun pada bait penutupnya kembali bercerita diri. Sungguh pun demikian puisi ini tetap menawan untuk dibaca. (Rg Bagus Warsono)

Erndra Achaer

AKU SEPERTI BUKAN AKU

Apakah hanya luka

Terus dibawa-bawa

Tidakkah ada sepercik saja

Harapan gembira

Sekilas nampak jelas

Untaian manis rupa

Apakah hanya pemulas

Di dalam hati culas

Lihatlah

Ada banyak cerita terlupa

Padahal ia ada dekat kita

Koar-koar pangkas maksiat

Sedang mata terus berkhianat

Tidakkah terdengar

Kabar miris tersiar

Hijab tubuh diagungkan

Hijab hati terabaikan

Lihatlah

Ada banyak cerita

Tentang bocah-bocah malang

Tercekam ancaman

Tak sedikit impian pupus

Dicekal bius nafsu

Etika kubilang

Norma bahkan terbuang

Dogma mencerca

Cuaca berita tetap sama

Serupa dalam wajah berbeda

Jkt, 26 Juli 2022.R

Erndra Achaer (Erni Tujianah), lahir di bumi Soedirman Purbalingga pada 20 Januari. Aktif di grup Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), dan beberapa grup sastra Facebook.

Karya-karyanya termuat dalam sejumlah antologi bersama, di antaranya: Antologi T (2021), Para Penuai Makna (2021), Para Penyintas Makna (2021), Persetujuan dengan Chairil (2021), 93 Penyair Membaca Ibu (2021), Bahasa Ibu Bahasa Darahku (2022), Pujangga Facebook Indonesia (2022), Kartini dalam Puisi (2022), Kafein, Ruang, dan Kreativitas (2022), Bunga-bunga Kamboja Berguguran di Pesta (2022).

Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (6) Khalid Alrasyid PERCAKAPAN MALAM

 Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (6)

Chairil adalah fenomena, bicara Chairiul Anwar tak ada habisnya. Bagaimana seorang penyair memandang Chairil bagaimana kedekatan dengan tokoh itu dibangun. Dalam Percakapan Malam karya Khalid Alrasyid tentang Chairil Anwar disampaikannya bahwa sosok pujangga Angkatan '45 itu menjadi pesona bagi siapa saja yang membacanya. Disampaikannya bahwa puisi-puisi Chairil begitu abadi sepanjang masa. Pada baris-baris terakhir puisi Khalid Alrasyid melihat kenyataan yang terjadi sekarang ini. 

//../lihatlah rintik-rintik yang pasrah berjatuhan

menjadi ketentuan waktu

dari isyarat yang lindap

saat kata-kata kau sembunyikan dalam gela//.

(Rg Bagus Warsono) 

Khalid Alrasyid

PERCAKAPAN MALAM

Chairil, mari kita berbincang

menyantap bahasa 

menyeduh tawa 

pada segelas rasa

dari bola matamu

lilin itu menyala

di antara rinai-rinai doa

pada tubuh yang direngkuh dingin

lihatlah rintik-rintik yang pasrah berjatuhan

menjadi ketentuan waktu

dari isyarat yang lindap

saat kata-kata kau sembunyikan dalam gelap

Surabaya, 210722

Khalid Alrasyid dengan nama panggilan "Gagak" lahir di Kota Gerbang Salam, Pamekasan bermukim di bumi Mojopahit, Mojokerto.  Seorang Serdadu Laut pecinta & penikmat sastra. Pendiri Komunitas Kopi & Diksi yang juga Executive Director Homagi International Magazine. Beberapa karya solonya, Antologi puisi Suara-Suara Gagak, Sehimpun Puisi Biji-Biji Waktu, Sehimpun Puisi & Pentigraf Lelaki Berdada Berpuisi. Dll…

Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (7) Rissa Churria DADA CAHAYA CHAIRIL ANWAR

 Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (7)

Ini puisi Rissa Churria perempuan penyair penuh talenta asal Bekasi tak ketinggalan memuji Chairil. Banyak kata dan kosa kata indah untuk memuji Chairil bahkan memperingatinya dengan banyak acara. Termasuk Rissa Churria juga . Namun ada istimewanya puisi ini yakni dalam bait : 

//.../Aku merapal doa 

Sembari menyusun sajak untukmu

Meski hanya seuntai fatihah

Sebaris shalawat tak bersyahwat

Yang aku tulis pada dinding langit Tuhanku/...//

Yakni sebuah kiriman doa kepada Sang Chairil yang ada di sana. Rissa mengingatkan kita bahwa ujud terima kasih tak lain bagi orang tlah tiada adalah kiriman doa. Ini menjadi cermin pembaca bahwa kelak kita pun ada yang mendoakan . Amien. 

(Rg Bagus Warsono)

Rissa Churria 

DADA CAHAYA CHAIRIL ANWAR

Kata ini bergemuruh pada puisimu

Seperti magma yang lahir di antara lahar cinta

Mengoyak dinding ketakutan

Membakar semangat juang kebangsaan

Aku merapal doa 

Sembari menyusun sajak untukmu

Meski hanya seuntai fatihah

Sebaris shalawat tak bersyahwat

Yang aku tulis pada dinding langit Tuhanku

Chairil sang binatang jalang

Ada lentera diksi yang selalu menyala

Pada hati yang jalang akan aksara

Menguntai rasa di sembarang cuaca

Hingga akhir penghabisan cerita

Kau tertunduk di pintu cahaya

Jakarta, 26.07.2022

Rissa Churria adalah penyair yang saat ini tinggal dan menetap di Bekasi, Jawa Barat. Karyanya diterbitkan dalam buku kumpulan puisi tunggal, yaitu : “Harum Haramain” (2016), “Perempuan Wetan” (2017), “Blakasuta Liku Luka Perang Saudara”(2018),  “Matahari Senja di Bumi Osing” (2019), Babad Tanah Blambangan (2020),  Bisikan Tanah Penari (2021), Risalah Nagari Natasangin (2021). Kembul Bujana Cinta Kamajaya Kamaratih (Kontmpelasi Puisi, 2021). Lebih dari 90 antologi bersama, antara lain : Khatulistiwa (Negeri Poci, 2021), Jazirah 1,2,3,4,5,8,9,11, dan 12  Festival Sastra Internasional Gunung Bintan, dan lain lain

Ulasan Puisi antologi 100 Chairil Anwar Masa Kini (8) Rosyidi Aryadi Abad Berlari Penyair Bersyair

 Ulasan Puisi antologi 100 Chairil Anwar Masa Kini (8)

Rosyidi Aryadi, penyair kelahiran Banjarmasin yang tingal di Palangkaraya ini masih sempat juga mengirim puisi di Lumbung Puisi. Rosyidi demikian mengutarakan dalam puisinya Abad Berlari Penyair Bersyair. Ia hendak menyampaikan bahwa kita beda zaman dengan zaman Chairil. Tetapi Rosyidi Aryadi mengungkapkan bahwa tak ada salahnya kita mengusung di Hari 100 Tahun Kelahiran Chairil. Baginya penghormatan terhadap pujangga angkatan'45 itu untuk mendapatkan bertkah kita. Sebuah kebijaksanaan yang luar biasa dimiliki Rosidi Aryadi. Dalam bait terakhirnya sebuah amanat bagi kita semua para penyair bahwa kita menengok diri kita kembali, untuk mencari jati diri , demikian bait terakhir itu: 

//..../Bangkit dan bergerak menapaki jalan puisi mengurai kepekaan jiwa sambil.menyimak pertobatan nasuha.

Perjalanan penuh liku luka semesta berpagar niat berbagi kata sembari meratapi jati diri.// 

(Rg Bagus Warsono) 

Rosyidi Aryadi

Abad Berlari Penyair Bersyair

Merekam kegelisahan dalam bingkai aksara membaca rindu meraung rasa membelah malam dalam perjalanan sunyi, menapaki hikayat bersaksi atas kesaksian penyair dalam syair pergulatan takdir bertasbih membaca peradaban dalam persembahan 100 tahun mencari berkah.

Kesetiaan menarikan tarian musim bersama memapah kegelisahan dalam purnama tak pernah membaluri dari persilangan diantara dua kutub berbeda.

Bangkit dan bergerak menapaki jalan puisi mengurai kepekaan jiwa sambil.menyimak pertobatan nasuha.

Perjalanan penuh liku luka semesta berpagar niat berbagi kata sembari meratapi jati diri.

Palangkaraya, 26 Juli 2022

Penyair Senja Rosyidi Aryadi, kelahiran Banjarmasin, 22 Juli. Sejak Tahun 1980 berkesenian khususnya sastra dari Banjarbaru, Banjarmasin Kalimantan Selatan, Palangkaraya Kalimantan Tengah. Penerima Lencana Anugrah 30 Tahun Kesetiaan SetyaSastra Nagari Tahun 2021 dari Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, asal Palangkaraya Kalimantan Tengah.

Beberapa puisi tergabung dalam beberapa kumpulan puisi baik di daerah maupun luar daerah. Tinggal di Jl Temenggung Tilung Menteng 17 No 35 RT 02 RW 08 Kel Menteng Kec Jekan Raya, Palangkaraya 73112 Kalimantan Tengah

Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (9) Ence Sumirat DEPAN MAKAM CHAIRIL

 Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (9)

Masih Tentang Chairil Anwar, kali ini Penyair Cianjur Ence Sumirat menorehkan puisinya berjudul "Depan Makam Chairil" . Ence Sumirat melukiskan bagaimana Chairil menjadi sosok penyair yang dihormati hingga kini yang sudah seabad lamanya. Bahkan batu nisannya tetap dipelihara oleh kita semua sebagai penghormatan kepada pujangga angkatan '45 itu. Disana Chairil yang berbaring di keabadian itu terus menghembuskan aroma perjuangannya dimasa Chairil hidup. Ence Sumirat melukiskan betapa sosok Chairil begitu besar pengaruhnya dalam perkembangan puisi di Indonesia. Pada baris baris puisinya menegaskan bahwa puisi-puisi Chairil Anwar terus hidup. Bahwa perjuangan Chairil lewat puisi menjadi nafas perjuangan kita semua penyair Indonesia. 

Puisi pendek Ence Sumirat tampak padat dan apalagi Depan Makam Chairil. (Rg Bagus Warsono).

Ence Sumirat

DEPAN MAKAM CHAIRIL

Tanah merah masih tetap basah

Saat jutaan doa tumpah ruah

Pancang nisan berdiri kokoh bertahan

Dalam aroma pekat kerinduan 

Seabad sudah

Terbaring pejuang kata

Yang takhenti menghunus cinta

Menjaga marwah manusia 

Genap bakti usai menderma

Bersama keagungan jiwa

Di keabadian 

Tuhan telah janjikan

Rumah puisi hakiki kemerdekaan

Seperti yang sering ia dengungkan

Pada setiap napas perjuangan

Cianjur 26 Juli 2022

*Ence Sumirat lahir di Cianjur tahun 1971.

Belajar menulis puisi secara otididak yang karyanya banyak dimuat media cetak dan online. Puisinya banyak terkumpul dalam antologi bersama. Kini menetap di perum Kota Baru Kec. Cilaku-Cianjur, Jawa Barat 43285.,fb:ence sumirat email : istimewa32@gmail.com

Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (10) Erwan Juhara MEMBACA JEJAK CHAIRIL

 Ulasan Puisi 100 Chairil Anwar Masa Kini (10) 

Senada dengan yang lain, Erwan Juhara Penyair asal Bandung juga menuliskan puisinya tentang Chairil. Erwan menyoroti jejak pujangngga angkatan '45 itu dalam puisinya sehingga ia mengenalnya. Tentu juga disuguhkan bagi pembaca puisi Erwan Juhara ini. Pada baitnya yang pertama ditatapnya puisi Chairi di masa ini, di masa transisi ini. Dan selanjutnya ia uraikan betapa puisi Chairil Anwar memiliki sarat perjuangan hinga puisi-puisinya itu menjadi prasasti sejarah bangsa ini. 

Puisi pendek yang sarat puisian terhadap puisi-puisi Chairil Anwar, demikian Erwan Juhara memotret puisi Chairil menjadi sebuah puisi. (Rg Bagus Warsono)

Erwan Juhara

MEMBACA JEJAK CHAIRIL

Lewat sajak aku tahu kau ada

Berima puitis seperti akan melahap hari

Menyuarakan hati jalan keadilan

Menjadi martir di negeri transisi

Tapak tubuhmu menjadi situs penanda zaman

Tajam kata-kata pleidoi tak hanya sebatas jilatan pelangi

Diksi kritis mengubahmu menjadi kampiun terdepan

Seperti darah yang mengucur atas perjuangan dan harga nurani

Jejakmu terlukis sepanjang catatan bumi pertiwi

Sebagaimana bayangan menjadi superhero suara negeri

Jadi saksi kata sejarah penanda sepanjang zaman

Bandung, 2022

---------

Erwan Juhara, lahir di Bandung 5 Januari 1968. Pernah Studi di FPBS IKIP Bandung dan Fasa

PPS Unpad Bandung. Menulis Artikel, Esai, Puisi, Cerpen, Buku dll. Kini tinggal di Jalan Sukapura 79 B

Gang Anggrek RT 01 Rw 02 Kiaracondong-Bandung 40285 dan Jalan Sukapura, Kampung Lemah Hegar

No. 4 Rt 06 Rw 04 Gang Mesjid Fathurrohman Kiaracondong Bandung 40285

Ulasan Puisi "100 Chairil Anwar masa Kini" (11) Warsono Abi Azzam PADA SEBUAH NAMA

 Ulasan Puisi "100 Chairil Anwar masa Kini" (11) 

Mari kita lihat puisi Karya Warsono Abi Azzam. Penyair Cilacap  ini juga masih tentang Chairil Anwar. Meski tak disebut nama Chairil, jelas Pada Sebuah Nama itu untuk Chairil Anwar. Hal ini dari cuplikan kata puisi Chairil yang diambil untuk puisi tersebut. Warsono Abi Azzam menyampaikan lewat puisinya bahwa puisi-puisi Chairil memberi motivasi penyair masa kini. Bagunya puisi Chairil memberi peringatan agar kita tak menjadi binatang jalang dan yterbuang. Pada ujung puisi ini Ia pun menyampaikan doa untuk sebuah nama penyair itu: Chairil Anwar. (Rg Bagus Warsono)

Warsono Abi Azzam

PADA SEBUAH NAMA

Pada sebuah nama

yang darinya ku warisi

geletas semangat

untuk hidup seribu tahun lagi

karya literasi 

membumi

mengabadi

biar tak sekali berarti sesudah itu mati

Diksi-diksi bernas berisi

bertumbuh semi

deras mengalir

dari generasi ke generasi

biar tak jadi binatang jalang

dari kumpulannya terbuang

Terlantun doa panjang

untuk abadinya sebuah nama

: Chairil

Cilacap, 26 Juli 2022

Warsono Abi Azzam, nama pena dari Warsono, M. Pd adalah guru Matematika  penyuka dan penikmat sastra. Telah menerbitkan 5 buku solo puisi, 2 buku solo pentigraf, dan puluhan buku antologi puisi, cerpen, cernak, pentigraf. Dapat dihubungi melalui WA 081642937101, surel:  warsono_clp@yahoo.co.id instagram: @warsonoclp

Ulasan Puisi "100 Chairil Anwar Masa Kini" (12) Tarni Kasanpawiro JIKA BOLEH AKU BICARA

 Ulasan Puisi "100 Chairil Anwar Masa Kini" (12) 

Maki kita simak puisi Karya perempuan penyair asal Bekasi , Tarni Kasanprawiro. Jika Aku Boleh Bicara. Membandingkan karya Chairir dan 100 Chairil Anwar Masa Kini. Tentu kata Arifin Brandan beda peradaban. Namun demikian puisi kadang memiliki tujuan yang sama bagi penyairnya. Tarni Kasanprawiro hendak mengungkapkan isi hatinya. Judulnya memberi penerang isi bahwa ada belenggu dalam dirinya. Bait pertamanya menceritakan kesan diri yang begitu panjang. Namun juga menyadari kodratnya sebagai manusia seperti pada bait kedua. 

Pada bait terakhirnya optimesme pun dibangun dan tegas, seperti baris bagusnya ini : 

;;.../...terselip sudah di lipatan buku-buku purba

yang konon katanya, tanpa mereka

dunia akan kiamat, segera//

Agaknya Tarni Kasanprawiro mengambil keputusan bahwa bukan berarti tak boleh membaca karya sastrawan terdahulu tetapi kita harus berani membuat sesuatu yang baru, yang tak seperti dulu agar bermakna. (Rg Bagus Warsono)

Tarni Kasanpawiro

JIKA BOLEH AKU BICARA

aku ingin merdeka

dari belenggu rasa yang menyiksa

ketika rambut kehilangan mahkota

mata yang indah kehilangan binarnya

bibir yang manis lupa caranya menyapa

senyum yang katanya sedekah 

kini telah terlapisi burka

hidup yang hanya sementara

terpenjara ribuan jeruji kata-kata

siang dan malam dibayang-bayangi dosa

ancaman siksa turut merusak suasana

suara yang merdu tarian yang indah

pun tak luput diberinya garis merah

lengkapi daftar buku para pemujanya

pelangi yang indah kehilangan warna

hanya hitam yang mendominasi semua

di mana bisa kutemukan bukumu bunda

habis gelap terbitlah terang yang mendunia

kini lihatlah rumah kita dipenuhi hitam pekat

tak ada lagi senyum ceria di bawah purnama

dan juga nyanyian bocah tertawa renyah

terselip sudah di lipatan buku-buku purba

yang konon katanya, tanpa mereka

dunia akan kiamat, segera

Cibitung, 26 Juli 2022

Sekolah Isine Patungan

 Rg Bagus Warsono 

Sekolah Isine Patungan


Jarene guru wis mulya

numpake mangkat mulang rodane papat

umahe gedong rajeg wesi

mulang klambine apik kudunge anyar

sepatune mengkilap disemir 

nyatane arep dagang 

sekolah dadi toko kriditan

muride pinter tapi keder

kabeh aturan ana regane

patungan tuku buku langka lirenne

Bocah minder

wong tua murid mblenger

saben dina kudu ana 

patungan werna-werna

guru saiki ora nduweni rai

rai kandel ilmune ngedabel .

RgBagus Warsono, 23 Januari 2016

Ketroprak E

 Ketoprak E 


Ketoprak itu ditinggalkan sutradaranya,

nayaga tetap memainkan gamelan,  para pelakon  merias wajah dan busana, skenario berganti, punakawan mengisi jeda,

dan purnama menerangi latar,

jangan dulu pulang sebelum cerita tamat.

Si Antagonis mendapat balasan

Penonton bersorak

 (Rg Bagus Warsono)

Setangkai Bunga Untuk Polisi.

 Setangkai Bunga Untuk Polisi. 



Di Spanyol, polisi di sana tidak terlintas sedikit pun dalam benaknya ada uang tambahan dari masyarakat suap atau upah tambahan lain atau terima suap. Mereka bekerja dengan baik dan profesional. Penghasilannya melulu dari gaji dan tunjangan yg diberikan oleh negara.

Di sana sangsi terhadap pelanggaran lalu lintas tidak bisa di tukar dengan uang pada saat terjadi pelanggaran. Dan denda dibayar melalui badan yang menangani denda pelanggaran.

Mereka sedapatnya memberikan layanan dan penyuluhan kapan saja pada masyarakat. Tak ada kata "damai saja" tetapi polisi betul-betul menerapkan dan mengawal aturan dan undang-undang negara itu.

Perlakuan polisi pada masyarakat yang melanggar hukum begitu ramah tetapi tegas.

Hal biasa jika di negeri itu melihat polisi membantu masyarakat. Misalnya menuntun manula menyeberang jalan, mengangkat barang, mendorong mobil mogok, menolong kecelakaan sampai menggendong anak sekolah dan lain-lain. (Rg Bagus warsono 6 Agustus 2022)

Kini Ganjar Pranowo Harus Blusukan se Nusantara

 Kini Ganjar Pranowo Harus Blusukan se Nusantara Ganjar Pranowo (GP) setelah dinyatakan sebagai Capres perhatiannya tidak lagi dalam wilayah...