Jumat, 23 September 2022

Bukan Aku Tak Sayang

 Bukan Aku Tak Sayang

Teringat masa kecil.  Bagai disambar petir seolah tak percaya. Ketika aku pulang dari desa dimana aku mengajar. Ibuku pun menyediakan makan untukku. Betapa seorang ibu memberi kasih perhatian pada  anaknya yang sengsara. Ibuku bercerita bahwa ia kedatangan tetangga depan rumah, orang terpandang dan kaya. Ibu mengatakan bahwa orang itu telah menetapkan putusan hatinya untuk meminta ibu agar aku sebagai putranya mau menikah dengan putrinya yang cantik jelita. 

Ibu juga sekan tak percaya, namun ketika tetangga depan rumah yang terhormat itu mengatakannya berulang, ibuku sadar bahwa aku pilihannya. Maka dengan terpaksa ibu mnyampaikannya padaku dan meminta keputusanku. Bahkan anak perempuan yang masih mahasiswa itu pun telah mau menerimaku bukan semata menurut orang tua tetapi juga karena baktinya kepada orang tuannya. 

Aku tak bisa begitu percaya dengan perkataan, jangan-jangan Ibu cuma berangan-angan. Aku hanya tertawa mengalihkan pembicaraan dan ketika ibu mendesak, meyakinkan bahwa orang yang memintaku untuk menjadi menantunya adalah sungguh-sungguh, aku hanya diam seakan tak percaya  ini terjadi.

Lalu aku terdiam dan merenung. aku hanya seorang pemuda dengan pekerjaan menjadi guru sekolah dasar bergaji rendah. Aku sadar aku banyak kekuranganku, aku hitam dan buruk rupa. Tetapi ibu mengatakan yang sebenarnya. 

Setelah berfikir sehari aku katakan untuk tidak menerima permintaan yang tulus dari tetanggaku. Buka karena aku sombong dan atau karena tidak suka, tetapi aku rumangsa, aku anak orang miskin pekerjaan kecil dan tak pantas bersanding dengan gadis cantik anak orang kaya dan sangat terhormat di desaku.

Akhirnya kuputuskan untuk tidak menerima walau berat hati. Bukan karena apa-apa karena aku sayang pada ibu, aku menghargai kedua orang tuaku aku tidak gila kecantikan dan kekayaan. Meskipun ia dengan niat baik , tetapi perbedaan yang tak wajar akan membuat kepedihan. Walau pun ia cantik dan berbudi baik. Karena itu aku katakan "tidak" dan meminta ibu menyampaikannya pada tetanggaku yang telah berbuat baik secara baik-baik. 

Akhirnya ibu mau menerima penjelasanku dan justru bangga pada anaknya.

Dari semua itu hingga aku tidak heran dengan kecantikan seseorang, tidak juga pada seorang gadis dalam kasih tak sampai, meski sering menggangu hati. Bersyukur bahwa Allah menunjukan yang terbaik. Aku mendapatkan istri yang cantik dalam ukuranku. Dan ternyata aku diberikan anak-anak yang terbaik juga. 

Kini aku berterima kasih pada ibu, Ibu telah memberi pelajaran berharga untukku selamanya. Salah satunya aku tidak pernah silau kepada kecantikan seseorang. 

(Bukan aku tak sayang, Rg Bagus Warsono 2016).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kini Ganjar Pranowo Harus Blusukan se Nusantara

 Kini Ganjar Pranowo Harus Blusukan se Nusantara Ganjar Pranowo (GP) setelah dinyatakan sebagai Capres perhatiannya tidak lagi dalam wilayah...