Di lapangan rumput terlihat anak-anak TK dan bu guru yang tampak lincah bermain bersama. Terdengar riuh suara bocah-bocah itu bermain. Bu guru cantik yang sabar meladeni murid-muridnya. Semakin dekat semakin menarik perhatian, anak-anak yg kecil gembira dan tertawa. Akupun tak sadar ikut tertawa. Sampai di batas pagar lapangan mataku terus mengamati. Permainan ibu guru dan anak itu makin seru hingga tiba-tiba bola keluar lapangan hampir mengenai aku. . Bocah kecil yang agak gendut itu tampak lucu mengejar bola dan tak menghiraukan aku yang berdiri terpaku. Ketika anak itu berhasil menangkap bola, ibu guru itu menoleh kearahku dengan senyum menawan, kemudian ia bermain kembali. Ketika aku menatap kerumunan anak-anak itu, Bu guru menengok kearahku sambil mengejar bola kecil. Rupanya bola itu menggelinding ke arahku dan tak sengaja tanganku menangkap bola kecil yang hampir menyentuh kakiku. Ketika bola itu kupungut, betapa kagetnya tiba-tiba bu guru itu sudah di depanku. Aku menatap wajah bu guru yang berkeringat dengan senyum. Tanganku kemudian diulurkan memberikan bolanya. Dia mengangguk tanda terima kasih, tetapi di belakang bu guru sudah kumpul berdiri anak-anak semua, lalu mereka tepuk tangan dan tertawa....
(Rg Bagus Warsono, Bu Guru itu kini telah berambut putih, tetapi tertutup kerudung, sehingga senyumnya masih seperti dulu. Dan matamu terlihat tebal oleh air, seperti dilapisi kaca, air mata yg tak berbutir, seakan memberi kata-kata mengapa kita tak bersatu. Ah kasih tak sampai).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar