Sarapan Pagi:
Mengelus Corong Lampu Teplok
Rg Bagus Warsono
Api kecil itu di lindungi corong kaca yang sudah tebal jelaga, sehingga hampir tak terlihat cahaya dari lampu teplok yang dipasang pada tiang penyangga rumah. Tiang kayu jati itu pun sudah hitam hingga langit-langit rumah.
Beruntunglah jarang sekali tamu malam hari, karena tak menyangka ada penghuninya. Jika ada pun hanya kerabat dekat mengantar makanan.
Lampu teplok juga penerang membaca di malam hari. Kemudian dikecilkan apinya dengan memutar pengerek sumbu.
Teplok yang dulu cantik sudah kecil api kotor pula corongnya, karena tak dibersihkan. Kau tak manfaat penerang kecuali jelaga menusuk hidung.
Lampu Templok itu kemudian mendapat perhatian. Sejak si pemiliknya menyadari sebuah keindahan.
Digosoknya corong kaca itu dengan kain yang disogok kayu gagang Ilir. Berulang hingga jelaga itu hilang dan menjadi kaca transparan. Kemudian botol minyaknya di gosok sehingga tahulah batas minyak sisa.
Lampu teplok kini tampak bersih di siang hari. Karena corong luar dalam itu bersih. Transparan. Begitu juga botol minyaknya terlihat batas yang hampir menyentu mulut botol yang menjadi penyulut sumbu lampu teplok.
Di malam hari api kecil itu menerangi bilik utama rumah kecil.
Tampaklah sekarang benda benda sekitar dalam bilik itu.
Demikian lampu teplok memiliki manfaat jika mau membersihkan diri. Cobalah dari mulai dalam dan luar badanmu. Agar mampu terpancar cahaya. Meski teplok kecil dan hanya sebatas ruang tamu, yang melihat tahu kita di dalamnya. Bahwa kita meski kecil memiliki karya yang bersinar abadi. (Indramayu, 2-9-22)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar